fbpx

Drama Premium saat Meeting IMF Termurah Berlangsung di Negeri Kaya (Katanya)

Drama Premium saat Meeting IMF Termurah Berlangsung di Negeri Kaya (Katanya)

Oleh: Barri Pratama
Wakil Ketua Umum PP KAMMI 2017-2019

Judulnya ironi, kotradiksi, dan seakan tidak pasti namun sepertinya mewakili para pemangku kebijakan negeri ini, sedih! Entah apa yang ada dalam pikiran Pemerintah, hanya dalam waktu satu jam kebijakan menaikkan harga BBM jenis Premium yang direncanakan 18.00 (10/10/2018) resmi naik tiba-tiba dibatalkan, ditunda atau apalah namanya.

Kebijakan menaikkan harga BBM terutama jenis Premium memang bukanlah kebijakan yang populis, wajar jika Pemerintah galau lantas menunda kebijakan tersebut. Uniknya, pengumuman awal rencana kenaikan disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan sendiri dari kawasan Annual Meeting IMF berlangsung, Lobby Hotel Sofitel Nusa Dua, Bali.

Entah kebetulan atau tidak, tepat tidaknya pengumuman yang disampaikan di Nusa Dua Bali oleh Menteri ESDM tersebut tentu menjadi sorotan tersendiri. Annual Meeting yang sudah disampaikan berkali-kali berbiaya paling murah dibandingkan agenda-agenda IMF-WB sebelum-sebelumnya tersebut, menimbulkan banyak pertanyaan.

Tentu bagi yang sensitif, dahi mereka mengkerut berdecit. Pilu Lombok duka Palu terus dibantah tidak akan terganggu penanganannya dan teratasi dalam waktu singkat meski Indonesia tetap melangsungkan Annual Meeting ini. Setidaknya janji bantuan korban bencana 50jt per KK di Lombok dan penanganan paska gempa dalam waktu sepekan di Palu segera terealisasi. Toh dengan adanya perhelatan kelas dunia ini, justru menambah pemasukan bagi pendapatan Bali sendiri, juga Indonesia tentu saja. Akhirnya akan kembali kepada kemakmuran rakyat, khususnya lagi kemakmuran Lombok dan Palu kilah Pemerintah. Kenyataannya?

Wajar rakyat makin bingung ketika banyak yang terus mengatakan “negeri ini kaya, jangan ngere (sok kere)!” tiba-tiba diumumkan kenaikan BBM hampir dari seluruh jenis. Tak tanggung-tanggung, kenaikkan BBM jenis Premium yang direncanakan dari Rp.6550 per liter jadi Rp.7000 per liter. Untung sebelum resmi naik, kebijakan tersebut kemudian diumumkan lagi ditunda. Aneh!

“Sesuai arahan Bapak Presiden rencana kenaikan harga Premium di Jamali menjadi Rp.7000 dan di luar Jamali menjadi Rp.6900, secepatnya pukul 18.00 hari ini, agar ditunda dan dibahas ulang sambil menunggu kesiapan PT Pertamina,’ ujar Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam keterangan tertulisnya.

Pertamina Sekarat
Sebelumnya sudah diramalkan, beban perang dagang global tentu akan berdampak kepada perekonomian Indonesia, cepat atau lambat. Apalagi dengan kebijakan kepemimpinan yang tidak teguh dan cenderung asal ngobral investasi kepada para investor asing hanya membuat gelak tawa dalam hati. Mirisnya, Indonesia masih saja mencoba mengandalkan sektor sumber daya alam untuk menyelamatkan diri. Kita coba fokus pada beberapa kebijakan yang diambil paska krisis di beberapa negara lain beberapa waktu lalu terlewat, terutama sektor energi.

Pemerintah terus berdalih bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dan hebat, tidak rapuh. Salah satu yang masih menguatkan dikarenakan beban subsidi dan impor crude oil era Jokowi sudah dibebankan kepada PT Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan yang mengurusi minyak negara, bukan lagi beban APBN. Sekali lagi, murni beban perusahaan. Namun akankah Pertamina akan terus bertahan dengan kondisi demikian? Beban impor 50% konsumsi dalam negeri tidaklah kecil, lebih kurang 1.6jt barrel/hari, ditambah harga minyak dunia yang kini sudah melonjak pada US$80/barrel, ditambah lagi menguatnya kurs dollar hingga Rp.15.200, habis sudah!

Beban berat bagi Pertamina, tak kuasa meski janji Ignasius Jonan hingga akhir tahun tidak akan ada kenaikan BBM jenis Premium nampaknya tak tertahankan lagi. Pengumuman tersebut hanya membantu Pertamina memberi sinyal kepada Jokowi, “tolooooong, tolong aku (Pertamina) Pak!”.

Sebenarnya sinyal-sinyal kondisi Pertamina yang rawan sudah sangat keliatan di beberapa kebijakan ESDM, maupun BUMN sebelum-sebelumnya. Mungkin karena bukan urusan Presiden jadi tidak perlu khawatir-khawatir amatlah. Beredarnya surat penjualan aset Pertamina yang ditanda tangani oleh Menteri BUMN Rini Soemarno misalnya, nyata jelas Pertamina sakit dan kewalahan. Jokowi kemana? Tenang, ini bukan urusan Presiden.

“Belum tentu juga Presiden ngerti, apa tugas saya. Wong Presiden juga nggak ngerti apa-apa!” Kata Rini Soemarno dalam sebuah rekaman.

Drama Premium
Kenaikan Premium memang telah dibatalkan atau setidaknya ditunda, hal ini digunakan untuk Pemerintah khususnya Kementerian ESDM bernafas dan kembali menghitung berapa besaran yang perlu ditentukan. Arti dari kata ditunda bukan lah dibatalkan, maka pembahasan tersebut masih terus dibicarakan dalam kabinet Jokowi. Toh beberapa jam sebelum (rencana) kebijakan menaikkan harga BBM Premium juga telah diumumkan kenaikan BBM jenis lainnya. Pertamax dari Rp.9500 jadi Rp.10.400, naik Rp.900; Pertamax Turbo naik Rp.1500 menjadi Rp.12.250; Dexlite naik Rp.1500 menjadi Rp.10.500; Pertamina Dex naik Rp.1350 menjadi 11.850; dan paling tinggi Biosolar naik Rp.2100 menjadi 9800.

Sayangnya, dari sejumlah BBM jenis yang dinaikkan tersebut tidak menutupi lebih dari 20% konsumsi BBM dalam negeri. Artinya, meski digenjot lebih Rp.1000-an sekalipun belum bisa menambal defisit anggaran Pertamina oleh sebab beban impor yang besar. Mungkin berharap dari konsumen Biosolar makanya kenaikan Biosolar paling bombastis, Rp.2100. Ya, mari kita lihat, karena bagaimana pun jurus menaikkan harga BBM ini adalah jurus yang setiap orang bisa dan tahu cara melakukan meski Presidennya tak ada sekalipun.

Jika dalam kacamata menaikkan harga Biosolar ini bisa menggairahkan para pengusaha energi alternatif, sepertinya tidak. Justru kenaikan yang luar biasa untuk Biosolar akan mematikan konsumen Biosolar sendiri dan memilih untuk mengalihkan diri pada opsi lain, kelas menengah ke atas tentu akan pindah pada Dexlite, dan kelas menengah ke bawah bisa jadi akan kembali pada Solar. Besarannya berapa? Tentu kembali pada angka tidak lebih dari 20% dan ujung dari semua ini, Pertamina masih terseok-seok.

Tenang, negara kita kaya kok (katanya). Duitnya ada tinggal mau kerja atau tidak!

Leave a Reply

Close Menu