fbpx

Ekspedisi Bhakti relawan Nusantara Sukabumi

Ekspedisi Bhakti relawan Nusantara Sukabumi

Arini Apriani, gadis kelahiran Sukabumi, tahun 1996 ini baru saja pulang dari Kampung Ciloma, Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung setelah mengikuti kegiatan Ekspedisi Bhakti Relawan Nusantara yang diadakan oleh Rumah Zakat (RZ), tepatnya 20 Oktober lalu.

Arin (sapaan akrabnya)saat ini tinggal di Kampung Babakan Ciburial, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh. Mengaku sangat terharu mengikuti agenda ekspedisi yang luar biasa ini.
“Jujur, selama perjalanan saya bersemangat sekali untuk segera mengetahui lokasi ekspedisi. Apalagi sewaktu tim RZ menyampaikan kondisi menuju lokasi. Ada perasaan tertantang untuk mengikutinya. Dan ketika saya susuri sepanjang perjalanan menuju lokasi. Subhanallah… saya tidak habis pikir. Terharu. Di zaman yang dikenal era milenial seperti sekarang ini. Sukabumi rupanya masih punya lokasi yang luar biasa aksesnya. Butuh perjuangan panjang berurai air mata. Dan saya tidak tahu bagaimana warga disini menikmati keluar biasaan ini. Jangankan untuk shoping-shoping ke mall mewah. Untuk belajar dan menunaikan keperluannya saja sangat mengharukan” ujarnya dalam linang air mata.

Gadis yang sedang mengabdi kampusnya tercinta, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi (STIKESMI)ini punya jiwa sosial yang tinggi bahkan sangat bersemangat dalam pengabdian terhadap umat.
“Saya bukan siapa-siapa. Saya tidak memiliki apa-apa, selain semangat agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat sebagai bentuk pengabdian saya agar saya bisa memberi manfaat” lanjutnya.

Arin memang lulusan tulen dari STIKES Sukabumi dengan latar belakang pendidikan kesehatan yang dia miliki. Lulus tahun 2017 sebagai Ahli Madya Kebidanan membuat ia bercita-cita ingin memiliki klinik mandiri agar bisa lebih banyak membantu masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan serta membantu pemerintah dalam meningkatkan mutu kesehatan di masyarakat sehingga tercipta bangsa dan negara yang sehat. Dengan peradaban yang kuat.

Gadis yang terlahir dari pasangan Kamaludin dan Iis Suhartini ini tidak hanya aktif dengan pengabdian pada almamaternya saja. Ia juga aktif dalam organisasi ekstra kampus yang cukup dikenal. Yakni di organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pengurus Daerah Sukabumi. Saat ditanya kenapa tertarik gabung KAMMI dengan senyum khasnya, ia menjawab
“Sebetulnya saya gak punya alasan buat gabung KAMMI, tapi saya juga tidak punya alasan untuk menolak keberadaan KAMMI. Yang jelas saat mengenal KAMMI saya jadi tahu, oh…ternyata begini ya KAMMI. Dan saya cinta KAMMI dengan apa yang saya miliki”.

“KAMMI memberi saya ruang untuk ber-ekspresi. KAMMI memberi saya kesempatan untuk mengabdi dan tetap menjadi diri sendiri, meski tak banyak yang bisa saya beri. Tapi setidaknya disini KAMMI selalu mengajarkan saya untuk berbagi” lanjutnya.

Saat mengikuti Ekspedisi Bhakti Relawan Nusantara ia tidak seorang diri. Ia berangkat bersama puluhan orang dari Rumah Zakat sebagai penyelenggara kegiatan itu sendiri dan dibantu olrh KAMMI.

Adapun kegiatan yang ia ikuti bertujuan untuk membantu meningkatkan status kesehatan masyarakat. Mensupport anak sekolah disana agar tetap semangat menimba ilmu. Kita juga Membagikan alat tulis dan makanan ringan untuk anak-anak. Membantu memfasilitasi tempat mengaji dengan bantuan Alquran dan iqro. Serta Berbagi dengan masyarakat sekitar.

Saat ditanya kenapa memilih mengadakan kegiatan di daerah itu? Arin menjawab

“Tentunya karena beberapa pertimbangan. Diantaranya akses menuju fasilitas kesehatan yang jauh. Fasilitas pendidikan yang kurang memadai diikuti dengan Sumber Daya Manusia (SDM) pengajar yang kurang, jujur disana guru SD saja hanya ada 5 orang dan 1orang kepala sekolah yang juga merangkap sebagai guru. Jadi total pengajar disana adalah 6 orang. Sangat bisa dihitung jari bukan?”

Sedikit berbagi tentang kondisi disana arin melanjutkan penuturannya.

“SDN ciloma merupakan sekolah yang berada di pedalaman dengan jumlah murid kurang lebih 87 orang. Apabila yang jauh menuju sekolah mereka menggunakan sampan. Walaupun cuaca hujan mereka berangkat, kecuali jika banjir atau hujan besar. Seperti yang saya sampaikan tadi. Tenaga pengajar disana hanya ada 6 orang (1 perempaun, dan 5 laki-laki).”

“Anak-anak disana baik. Sopan. Bahkan memberikan respon luar biasa saat ada tamu atau orang dewasa berkunjung ke sekolah mereka. Mereka tidak segan saat bertemu akan langsung sun tangan.
Di sana tidak ada sekolah agama (Madrasah Diniyah) tapi pengajian anak-anak cukup di galakkan. Kajian biasanya dimulai sekitar magrib sampai subuh dengan santri 50 orang lebih, anak-anak begitu bersemangat belajar. Namun Al-Qur’an dan iqro yang tidak memadai dan sudah usang”tuturnya

“Kp ciloma sendiri dihuni oleh kurang lebih 53 Kepala Keluarga (KK) dengan mata pencaharian sebagai petani padi dan memproduksi gula. Kondisi kesehatan yang minim karena bangunan pustu (puskesmas pembantu) hancur.”

Arin yang juga sebagai Kepala Departemen Hubungan Masyarakat (Humas) menyampaikan bahwa KAMMI sebagai organisasi pergerakan kampus yang bergerak di ranah sosial, sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi yang salah satu poinnya yaitu pengabdian masyarakat, dengan itu KAMMI bergerak. Disini pengabdian kita. Buktikan bahwa kita bisa berdaya untuk Indonesia. Ayo Gabung KAMMI dan jadi bagian dari KAMMI yang ikut serta dalam agenda Jayanesia 2045″. Ajaknya

Arin pun berharap. Setelah ekspedisi yang ia ikuti bersama relawan yang lainnya. Pemerintah dapat secara langsung mendatangi dan memberikan perhatian pada warganya dengan bantuan pemberdayaan yang baik agar betul-betul tercipta Sukabumi yang lebih baik.

Leave a Reply

Close Menu