fbpx

Sekutu

Sekutu

Oleh Kartika Nur Rakhman

“Economic nationalism leads to war. That is exactly what happened in the 1930s”. Emmanuel Macron, sang presiden Perancis yang sedang banyak digandrungi anak muda diseluruh dunia itu, dalam sidang G7 di Quebec bulan Juni silam mengeluarkan peringatan kepada sekutu dekatnya : Amerika Serikat.

Dunia sedang berubah. Amerika Serikat yang dianggap membentuk tata dunia baru paska perang dunia II sedang menghadapi dilema. Kepemimpinan mereka selama ini yang dianggap oleh Obama sebagai tempat dimana “our own wealth and safety depend” , justru dianggap sebagai masalah oleh penggantinya : Donald Trump.

Maka Trump segera melakukan kebijakan luar negeri yang menyentak sekutu-sekutu dekatnya. Perang dagang diberlakukan bukan hanya pada rival beratnya Cina, namun juga kepada tetangga terdekatnya Kanada dan Meksiko diberlakukan tarif impor. Semuanya dilakukan dengan alasan national-security. Justin Trudeau, sang perdana menteri Kanada yang memiliki darah Indonesia itu menyatakan alasan tersebut “quite frankly insulting and unacceptable”.

Ketegangan merambat di bidang militer, dimana Trump menyebut bahwa NATO adalah aliansi yang obsolete, usang. Trump menganggap Amerika terlalu banyak berkorban untuk aliansi ini, tidak sebanding dengan yang telah diberikan oleh anggota lainnya.

Membangun sekutu adalah membangun common sense. Ada nilai-nilai yang diperjuangkan bersama. Jika tidak menemukan hal tersebut maka tidak akan terbentuk aliansi. Selama ini Amerika dianggap sebagai pemimpin oleh para sekutunya karena berdiri diatas nilai-nilai liberal dan demokrasi. Itulah kepentingan dan nilai yang Amerika dan sekutunya kembangkan, promosikan dan lindungi dengan kekuatan militer.

Namun keluarnya Amerika dari Trans-Pasific Partnership (TPP), the Paris agreement on climate change, kesepakatan nuklir dengan Iran hingga pernyataan-pernyataan Trump tentang NATO, telah membuat sekutu-sekutunya mempertanyakan komitmen Amerika terkait nilai-nilai tata dunia yang mereka yakini dan perjuangkan bersama selama ini.

Akhirnya mari kita nikmati sajian global dari dekade-dekade awal milenium baru ini. Akankah kepemimpinan Amerika sebagai super power akan segera runtuh atau sebaliknya. Akankah para sekutunya membentuk aliansi baru dengan tanpa menyertakan AS. Atau akan muncul aliansi baru yang akan membentuk wajah tata dunia kedepan?

Kita perlu menikmati karena nampaknya kita belum bisa menjadi pemain utama dalam waktu dekat. Karena mendefinisikan apa common agenda dan siapa teman aliansi Indonesia dalam percaturan politik dunia saat ini saja kita masih ragu. Jadi mari kita lanjutkan menghirup aroma teh sembari berharap tidak ada lagi perang besar yang melanda bumi kita tercinta.

Leave a Reply

Close Menu