fbpx

Arah Mata Angin Milenial Pasca #DebatPilpresPertama

Arah Mata Angin Milenial Pasca #DebatPilpresPertama

Oleh: Barri Pratama
Wakil Ketua Umum PP KAMMI 17-19

Untuk membaca preferensi milenial kemana pasca #DebatPilpres2019 maka saya akan membawa lamunan kita kembali dalam detik-detik penentuan kandidat Pilpres 2019. Namun sebelumnya, harus dijelaskan terlebih dahulu mengapa di musim politik ini beberapa “kejadian alam” muncul dengan begitunya. Pertama, #NemoMovement. Ini gerakan nyata dan benar adanya.

#NemoMovement, gerakan ini diambil dari nama jenis ikan Nemo kala Ahok menceritakan pengalamannya saat membacakan pleidoi (pembelaan) atas kasus yang menjeratnya 25/4/2017. Ahok menceritakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan anak-anak TK di balai Kota DKI Jakarta, dan saat itu anak-anak menanyakan sikap Ahok yang berani. Ahok pun menjawab dengan mengibaratkan dirinya sebagai Nemo dan mengajak anak-anak TK untuk menonton film Finding Nemo.

_“Papa Nemo tidak izinkan Nemo masuk ke jaring, ya jadi jaring tadi Nemo bisa keluar masuk kan? Kalau ikan Nemo enggak mau masuk jaring, boleh enggak? Boleh juga, tapi buat apa dia masuk (jaring) kalau membahayakan nyawanya,”_ kata Ahok, di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. [sumber: kompas.com].

_“Sekalipun kita melawan arus semua, asal kita sendiri jujur mungkin tidak ada yang terimakasih sama kita. Kita juga tak peduli karena Tuhan yang hitung, bukan kita. Ini pelajaran dari film Finding Nemo. Jadi orang nanya ke saya, kamu siapa? Saya hanya ikan kecil Nemo di Jakarta,”_ imbuhnya. [sumber: kompas.com].

Lantas, kembali dalam detik-detik penentuan kandidat Pilpres 2019 saat diputuskannya Ma’ruf Amin sebagai pendamping Jokowi, muncullah gerakan dengan nama #NemoMovement ini. Gerakan ini merupakan wujud kekecewaan terhadap Jokowi atas pilihan pendampingnya di laga pertarungan Pilpres 2019. Besaran kekecewaan tak perlu saya sampaikan seberapa, namun pada kenyataannya #NemoMovement mengakibatkan rontoknya pasukan militan baik darat maupun udara di kubu Jokowi. Alasannya jelas, tontonan politik yang memuaskan dan kekecewaan. Bukti nyatanya? 4 tahun menjabat Presiden, elektoral Jokowi stagnan dan cenderung tak meningkat.

Kedua, kejadian alam berikutnya yang cukup viral, dan saya yakin anda pasti tahu. Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik kandidat Capres Cawapres Fiktif No 10 yang mengusung Nurhadi Aldo. Hastagnya #SmackQueenYaQueen. Sayang isu ini dipastikan tidak akan bertahan lama karena Edwin sang penggagas gila gerakan ini terlalu cepat mengatakan bahwa ujung dari gerakan Indonesia Tronjal Tronjol tidak lain mendukung gerakan golput.

Dalam sebuah kesempatan saat diwawancarai Rosi di salah stasiun televisi, nampaknya pertanyaan Rosi terlalu tajam dan menyudutkan, atau Edwin sang Kreator Capres Cawapres Fiktif ini yang terlalu lugu. hehe. Ya sudahlah.

_“Juga ada kecemasan yang anda lakukan ini beserta tim justru memperbesar ketidakpercayaan pada demokrasi, pada politik dan justru akan memperlebar atau memperbesar golput?”_ tanya Rosi.

_“Justru itu malah makin bagus mbak, jadi masyarakat itu teredukasi. Kalau benar-benar tidak ada yang baik untuk memimpin kita, ngapain kita pilih?!”_ jawab lugas Edwin.

Meski gerakan tersebut tak diteruskan pun, Edwin telah mewakili gambaran sejumlah besar suara masyarakat terutama milenial. Tentunya jika diteruskan akan semakin berbahaya, dan pastinya merugikan para kandidat, khususnya Jokowi. Jokowi akan kalah karena golput, yang oleh kampanye Indonesia Tronjal Tronjol justru akan menghimpun para fanboy Jokowi menjadi satu kolam baru beserta para milenial yang belum menentukan arah.

Sebagai bukti belum lama ini, lebih kurang sekitar 3 hari yang lalu, beberapa milenial berkumpul mendeklarasikan diri dengan gerakan Saya Milenial Golput (SMG).

Golput merupakan sikap, namun besaran golput dapat dikurangi sejauh golput tersebut bukanlah golput ideologis layaknya apa yang ditanamkan Edwin dengan mengatakan gerakan white paper/white party tersebut pun adalah gerakan pencerdasan masyarakat yang juga berkembang di negara-negara maju. Alasan pendukung menguatnya golput sejauh ini hingga meningkat di masyarakat terutama milenial sama seperti gerakan #NemoMovement. Kekecewaan terhadap tontonan politik dan rasa muak.

Beberapa “kejadian alam” di atas, beserta para fanboy yang lompat pagar, atau loncat dari kapal oleh kegagalan pencapaian kinerja yang tidak optimal dari janji-janji Jokowi, pejuang-pejuang HAM yang penuh harapan dulunya, revolusi mental yang entah kemana arahnya, ditambah kelompok-kelompok marginal yang sebelumnya menjadi kaum militan Jokowi kini beralih. Semua tersebut hanya menjadi faktor yang menjawab mengapa elektoral Jokowi turun/stagnan.

*Pertanyaan Intinya: Lantas Kemana Milenial Berlabuh?*
Kini. Elektoral Jokowi sementara ini lebih ditopang oleh kaum rasional, tradisional, dan sedikit para militan yang lebih diisi khususnya para pejuang-pejuang kemanusiaan keturunan PKI. Kaum rasional akan berfikir rasional dalam memilih, sedang tradisional akan susah berharap pada Sang Kyai untuk dijadikan pegangan jika melihat performa #DebatPilpres semalam. Sebaliknya, pendukung Prabowo makin diisi banyak militan, dihuni oleh kaum ultra nasionalis bertemu islamis fundamental. Memang juga tidak banyak, hanya saja daya dobraknya akan melelahkan petahana nantinya.

Milenial menjadi ceruk tersendiri. Pasca #debatpilpresPertama semalam, beban berat Jokowi semakin bertambah melihat performa Kyai Ma’ruf yang tidak optimal cenderung menghambat. Sedang di seberang, performa Sandi menjadi tatapan banyak pandangan. Meski demikian milenial belum menemukan tambatan yang pas. Mereka masih gamang dan cuek politik seperti biasanya. Hal tersebut jelas dikarenakan dari hasil debat pertama ini, tidak ditemukan sama sekali sesuatu yang dirasakan akan mengubah masyarakat, khususnya milenial sendiri sebagai pemegang saham terbesar 10 hingga 20 tahun mendatang. Ya, temanya memang berat.

Disinilah ruang pertarungan sesungguhnya, milenial menjadi kunci kemenangan Prabowo-Sandi untuk menyalip di akhir tikungan atau kekalahan petahana Jokowi-Ma’ruf akibat tidak mampu menjaga pemilih milenial karena memilih golput dengan berbagai alasan termasuk golput dikarenakan ideologis mereka sendiri. “Saya kecewa dengan beliau tapi saya tidak tahu apa harus memilih yang lain”.

Cara pembuktiannya simple saja, silahkan saja polling antara Jokowi-Ma’ruf; Prabowo-Sandi; atau Nurhadi-Aldo. Siapa yang unggul nantinya? Salam Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik.

Akhirnya. Pesan untuk milenial, bersatulah dan berikan gagasan perubahan dari ruang kalian, jangan golput.

Leave a Reply

Close Menu