fbpx

Menelisik Peranan Intelijen Pada Masa Kesultanan Ottoman

Menelisik Peranan Intelijen Pada Masa Kesultanan Ottoman

KEBERHASILAN dinasti Ottoman dalam mempertahankan kekuasaannya selama lebih dari 600 tahun tidak dapat dilepaskan dari peranan penting intelijen.

Kesultanan Ottoman mengembangkan sistem birokrasi yang kompleks pada abad ke-16 yang memunculkan kelompok administrasi khusus yang disebut kalemiyye. Anggota kelompok ini bukanlah elit militer, dan mereka menjalankan operasi diplomatik dan intelijen Ottoman.

Kesultanan Ottoman juga merekrut spesialis seperti dragoman (penerjemah) dan ahli kriptologi yang menguasai bahasa-bahasa Eropa serta teknik diplomatik dan spionase untuk melakukan kerja intelijen dan pengumpulan informasi.

Emrah Safa Gürkan dalam disertasinya “Espionage in the 16th Century Mediterranean” menjelaskan efektivitas intelijen Ottoman dan penggunaannya dalam peningkatan keberhasilan operasi militer.

Sebelum melakukan ekspedisi militer besar, aktivitas intelijen dari para mata-mata Ottoman juga akan meningkat. Informasi intelijen dari operasi rahasia yang mereka lakukan akan menentukan arah keberhasilan dari ekspedisi militer Ottoman.

Misalnya pada tahun 1561, seorang mata-mata Ottoman di Sisilia berhasil mempengaruhi sejumlah prajurit di Benteng La Goleta yang kemudian melakukan tindakan desersi.

Mereka meracuni sumur, mensabotase artileri, meledakkan gudang persenjataan, membakar bangunan dan melakukan pemberontakan di antara prajurit garnisun. Gubernur Jenderal Tripoli, Turgud Re, dan penguasa Tunis yang seharusnya adalah sekutu Habsburg malah menyusupkan 20-30 orang prajurit yang siap membantu Ottoman.

Sejarah terulang tiga belas tahun kemudian ketika Benteng La Goleta akhirnya jatuh ke tangan Ottoman. Komandan benteng menyadari keberadaan plot Ottoman dari pesan panah yang dikirimkan ke dalam kastil.

Pada hari yang telah ditentukan, lima tentara Spanyol yang desersi tidak hanya meledakkan gudang persenjataan, tetapi juga menempatkan dua bendera di bagian paling lemah dari sisi benteng sehingga tentara Ottoman tahu dimana tempat terbaik untuk melakukan serangan.

Kampanye angkatan laut Ottoman pada tahun 1534 juga merupakan indikasi yang jelas tentang hubungan antara informasi intelijen dan perencanaan kampanye militer.

Keberhasilan Laksamana Agung Hayreddin Barbarossa pada sejumlah operasi militernya yang sukses di pantai Neapolitan, pembakaran enam kapal Eropa, penangkapan Giulia Gonzaga dan pengepungan ke pantai Calabria adalah sebuah pertanda bahwa dia mendapat informasi intelijen yang signifikan.

Pada masa peperangan laut antara Ottoman dengan Habsburg, intelijen Habsburg memperkirakan bahwa Hayreddin Barbarossa akan menyerang daerah Otranto atau pantai Apulian, tetapi setelah mendapatkan informasi ini Laksamana Hayreddin segera mengubah target serangan dan menyerang pantai Tyrrhenian yang tidak dijaga oleh pasukan Habsburg.

Tentu saja serangan mendadak yang memanfaatkan informasi intelijen ini membawa kemenangan gemilang bagi Laksamana Heyreddin dan Kesultanan Ottoman.

Intelijen dan Wilayah Perbatasan

Sementara itu Panteleimon Roberts dalam “Intelligence and Security in the Ottoman Empire in the Time of Murad IV” menjelaskan mengenai sistem intelijen pada zaman Sultan Murad IV (1623-1640). Terkait dengan mekanisme perekrutan, keputusan pemilihan perwira intelijen ditentukan oleh kepala tituler (nişanci) Ottoman.

Nişanci mungkin mendapat rekomendasi tentang kandidat potensial dari wilayah provinsi tertentu ketika dia membutuhkan seseorang untuk operasi-operasi intelijen khusus. Dalam kasus tertentu pemilihan akhir mungkin akan dilakukan oleh Wazir Agung atau bahkan Sultan sendiri.

Sementara itu, para gubernur jenderal (beylerbey) dan gubernur distrik (sançakbey) di provinsi-provinsi perbatasan Ottoman diharapkan mengetahui apa yang sedang terjadi di seberang peratasan. Untuk tujuan ini mereka mempertahankan operasi klandestin dan kontak terbuka dengan informan di negara lain.

Para gubernur juga menginvestigasi para pelancong yang melewati wilayah Ottoman dan secara teratur mengirim agen intelijen, tim pengintai dan bahkan menyerang musuh yang melanggar wilayah perbatasan. Seorang gubernur yang kompeten diharapkan dapat menginformasikan kepada pemerintahan pusat tentang situasi perbatasan setidaknya maksimal dalam waktu tiga hari.

Salah satu pejabat perbatasan yang penting dalam sejarah intelijen Ottoman adalah Kapudan Pasha, yang menjadi gubernur distrik dari Cezayiri Bahri Sefid.
Wilayah ini terdiri dari kepulauan yang tersebar di sekitar Laut Tengah dan Laut Aegea yang juga berfungsi sebagai pangkalan laut yang memungkinkan pemantauan pengiriman barang dan pergerakan kapal di kawasan tersebut.

Ketertiban wilayah dan patroli rutin yang dilakukan angkatan laut Ottoman membuktikan bahwa Gubernur Kapudan Pasha mampu mendapatkan informasi intelijen yang baik dan dapat menjaga stabilitas keamanan di wilayah laut Ottoman.

Jaringan Intelijen Sang Sultan

Ekrem Ekinci seorang pakar sejarah Ottoman dalam artikelnya “The Evolution of Ottoman Era Secret Services” mencatat upaya Sultan Abdulhamid II (1876-1909) dalam pembentukan jaringan intelijen yang dapat menopang stabilitas pemerintahannya.

Ketika Sultan Abdulhamid II naik ke tahta Ottoman, dia membentuk jaringan intelijen yang melintasi seluruh negeri dimulai dari lembaga pengadilan. Wazir Agung Said Pasha kemudian mengusulkan Sultan Abdulhamid II menghubungkan organisasi intelijen ini ke istana dan merumuskan peraturannya sendiri.

Sultan Abdulhamid II merasa perlu untuk mendapatkan dukungan perwira intelijen di pihaknya, dan dia melakukannya dengan menawarkan hadiah kepada mereka. Ketika Ottoman mulai mengalami masa kemunduran dimana etika dan loyalitas orang-orang mulai melemah, salah satu cara untuk mendapatkan loyalitas orang adalah melalui uang, penghargaan dan pangkat.

Kabarnya, Sultan Abdulhamid II berhasil mengumpulkan sebanyak 30.000 orang petugas intelijen.

Selain para pejabat, ada juga kalangan dari berbagai profesi dan kebangsaan seperti para darwis dari Kaşgarlı, mullah dari Daghestan, pengemis dari India, penjelajah dari Sudan, syekh dari Libya, penduduk Kurdi dan Afghanistan, hodja dari Tatar, aktor, tukang sulap dan ilusionis termasuk di antara jaringan intelijen yang direkrut oleh Sultan Abdulhamid II.

Petugas provinsi dan bahkan pekerja kedutaan dimasukkan juga ke dalam jaringan intelijen tersebut. Bahkan para pejabat negara, selir dan agha yang ditawari hadiah dari istana juga terlibat dalam jaringan intelijen Ottoman.

Lebih lanjut, mata-mata Ottoman dikirim ke negara-negara asing untuk membawa kembali informasi yang membantu gerakan militer strategis dan kebijakan ekonomi. Aktivitas intelijen ini juga dilakukan oleh negara-negara vassal Ottoman dan menyerahkan informasi ini ke Istanbul.

Melalui jaringan mata-mata yang tersebar di seluruh kawasan, Sultan Adulhamid II dapat membangunselama 33 tahun masa pemerintahannya.

Pada akhirnya, kita bisa melihat bagaimana Kesultanan Ottoman secara efektif menggunakan intelijen dalam berbagai dimensi strategis. Intelijen berperan dalam proses diplomasi dan pembangunan kerjasama dengan negara asing.

Di sisi lain informasi intelijen digunakan untuk meningkatkan keberhasilan kampanye militer Ottoman. Intelijen juga berperan dalam pemantauan wilayah perbatasan Ottoman.

Tanpa adanya peranan intelijen yang signifikan, tentu saja Dinasti Ottoman tidak mampu bertahan selama enam abad dan menguasai kawasan Eropa Timur, Timur Tengah, Mediterania hingga Afrika Utara. [***]

Adhe Nuansa Wibisono, S.IP, M.Si

Majelis Pertimbangan KAMMI Turki

Leave a Reply

Close Menu