fbpx

Diaspora KAMMI Dan Visi Indonesia 2045

Diaspora KAMMI Dan Visi Indonesia 2045

PADA 29 Maret 2019 ini Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) akan mencapai usianya yang ke 21 tahun, sebuah usia yang dibilang sudah mencapai fase “pendewasaan” bagi sebuah gerakan mahasiswa. KAMMI yang lahir di tengah krisis ekonomi 1998, kemudian hadir sebagai respon anak muda yang gelisah melihat situasi politik Indonesia yang sedang “hamil tua” kala itu. Rezim Orde Baru sudah berkuasa selama 33 tahun dan memasuki masa-masa terakhir kekuasaannya, dan KAMMI muncul dengan membawa harapan akan Indonesia baru, reformasi pemerintahan yang demokratis, bebas dari korupsi dan otoritarianisme.

Semangat perjuangan KAMMI pada tahun-tahun awal reformasi juga menyebar pada mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di luar negeri. Pada awal pembentukannya KAMMI telah memiliki struktur di tingkat komisariat dan daerah serta memiliki jaringan wilayah secara nasional di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu juga KAMMI membentuk Jaringan Wilayah Luar Negeri yang terdiri dari Jaringan Wilayah Eropa, Amerika, Jepang dan Timur Tengah (Mahfudz Sidiq: 2003).

KAMMI Jaringan Wilayah (Jarwil) Eropa pada periode tahun 1998-2003 terdiri dari KAMMI Jerman, KAMMI Inggris dan KAMMI Belanda. KAMMI Jarwil Eropa juga terlibat aktif dalam penggalangan dana sosial yang disalurkan ke Indonesia. Tercatat KAMMI Eropa dan KAMMI Jerman menggulirkan program Aksi Sosial Nasional (Aksosnas) KAMMI PEDULI yang pengumpulan dananya dilakukan pada komunitas diaspora Indonesia yang tinggal di Jerman (Tripod KAMMI Jerman: 1998).

Selain itu KAMMI Eropa juga secara aktif melakukan penyikapan isu-isu politik nasional bersama elemen diaspora Indonesia lainnya. KAMMI Eropa bersama Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR) dan Islamic Network Britania Raya (ISNET UK) merilis peryataan sikap terkait Tragedi Ambon pada tahun 2000. Pada Januari 2003, KAMMI Eropa bersama elemen mahasiswa muslim di Jerman merespon kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan TDL yang semakin memberatkan beban hidup masyarakat. Selanjutnya pada Juni 2003, KAMMI Eropa bersama elemen mahasiswa lainnya dari Jerman, Jepang, Mesir, Inggris, dan Belanda menuntut dan mendorong pengesahan RUU Sisdiknas.

Perkembangan lainnya, aktivitas sosial KAMMI juga menjangkau sampai ke negeri Sakura melalui keberadaan KAMMI Jarwil Jepang yang terbentuk sejak tahun 1998. Pasca bencana tsunami yang melanda Jepang tahun 2011, KAMMI Jepang dan lembaga zakat nasional PKPU melancarkan program penyaluran bantuan bagi korban tsunami di wilayah Sendai. Mereka melakukan program “takidashi” atau layanan penyediaan makanan untuk ratusan pengungsi di Masjid Sendai dan lokasi pengungsian sekitarnya.

Kerjasama antara KAMMI Jepang dan PKPU terus berlanjut, khususnya dalam aksi penggalangan dana untuk merespon bencana dan isu kemanusiaan di berbagai negara. Pada tahun 2013 penggalangan dana dilakukan untuk membantu korban krisis Mesir dan Somalia. Kemudian Save Aleppo Suriah dan Peduli Rohingya menjadi isu utama yang diangkat pada tahun 2016. KAMMI Jepang juga memiliki perhatian untuk merespon bencana yang terjadi di tanah air. Bencana Banjir Sumatera tahun 2016 menjadi isu utama dalam penggalangan dana yang dilakukan.

Babak Baru KAMMI Luar Negeri

Pada tahun 2017, perkembangan diaspora KAMMI mengalami babak baru dengan dibentuknya 3 cabang luar negeri KAMMI yaitu KAMMI Malaysia, KAMMI Korea Selatan dan KAMMI Turki. Pembentukan cabang baru ini melihat potensi persebaran diaspora KAMMI yang terus meningkat. Pada periode tahun 2017-2018, diaspora KAMMI telah menyebar di hampir 14 negara diantaranya adalah Malaysia, Korea Selatan, Turki, Inggris, Australia, Tiongkok, Jepang, Belanda, Rusia, Selandia Baru, Taiwan, Saudi Arabia, Brunei, dan Libya.

Diaspora KAMMI ini terdiri dari para mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi magister (S2) atau doktoral (S3) di negara-negara tersebut. Aspek pendidikan dan intelektualitas tentu saja menjadi perhatian KAMMI, sebagaimana tercantum dalam paradigma gerakannya sebagai Gerakan Intelektual Profetik.

Ibadurrahman, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP KAMMI, menyebutkan pada tahun 2019 ini jumlah kader dan alumni KAMMI di seluruh dunia diperkirakan mencapai 359.000 orang. Pernyataan ini diperkuat dengan data rekrutmen anggota KAMMI periode 2015-2017 yang menunjukkan capaian rekrutmen 28.347 anggota baru selama masa 2 tahun (LPJ Bidang Pembinaan Kader PP KAMMI 2015-2017). Tren positif meningkatnya rekrutmen ini mendorong KAMMI untuk terus melakukan ekspansi pembentukan jaringan KAMMI Luar Negeri.

Upaya ekspansi jaringan ini merupakan perwujudan rekomendasi Muktamar ke-X KAMMI tahun 2017 yang mengamanatkan adanya pembentukan 10 cabang KAMMI Luar Negeri. Terdapat tiga poin utama terkait diaspora KAMMI dalam Panduan Kerja Nasional KAMMI Periode 2017-2019, yang ditetapkan dalam Muktamar tersebut : 1) Pengembangan 10 cabang KAMMI Luar Negeri, 2) Mendorong 136 kader KAMMI melanjutkan studi S2 dan S3 di seluruh dunia, dan 3) Menempatkan SDM strategis KAMMI untuk mengisi ruang-ruang profesional dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Selain ekspansi jaringan, KAMMI juga terlibat aktif dalam membangun kerjasama dengan berbagai organisasi kepemudaan di berbagai negara. KAMMI berpartisipasi dalam pertemuan pemimpin muda Asia Tenggara dalam agenda ASEAN Young Leaders Forum (AYLF) di Kuala Lumpur pada Maret 2017. Organisasi anggota AYLF diantaranya adalah KAMMI, Pemuda PUI, Pemuda Al-Irsyad, FSLDK Nasional, IKRAM Malaysia, FMSA Singapura dan organisasi kepemudaan di Thailand, Filipina, Kamboja dan Sri Lanka.

Di luar kawasan ASEAN, KAMMI juga bekerjasama dengan organisasi kepemudaan internasional Turki seperti UDEF (Uluslararası Öğrenci Dernekleri Federasyonu) dan Hayrat Vakfi. Bersama UDEF, KAMMI telah mengadakan International Student Gathering di Jakarta pada April 2018. Selain itu UDEF bekerjasama dengan KAMMI akan membuka kantor perwakilannya di Indonesia. Dengan Hayrat Vakfi, KAMMI telah mengadakan program pendidikan bahasa Turki dan pertukaran pelajar. KAMMI dan Hayrat Vakfi juga bekerjasama dalam aksi sosial penyaluran bantuan untuk korban gempa Palu pada Oktober 2018.

Brain Gain dan Indonesia 2045

Menurut data Indonesia Diaspora Network, pada tahun 2018 jumlah diaspora Indonesia sekitar 8 juta orang atau sekitar 3 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dalam komponen diaspora tersebut terdapat unsur mahasiswa yang jumlahnya cukup signifikan. Data PPI Dunia pada tahun 2017 menyebutkan terdapat 86.420 orang mahasiswa Indonesia yang tersebar pada 53 negara di seluruh dunia. KAMMI melihat potensi diaspora dan mahasiswa Indonesia tersebut sebagai modal positif untuk pembangunan Indonesia ke depannya.

Potensi diaspora Indonesia yang jumlahnya besar akan menjadi fenomena Brain Gain yang akan membawa dampak positif bagi Indonesia melalui transfer teknologi, pengetahuan dan networking. Melalui kehadiran diaspora, Indonesia akan memiliki jaringan SDM di luar negeri yang memahami peta dunia bisnis dan akses informasi dari berbagai negara tersebut. Proyeksi satu abad kemerdekaan Indonesia, yaitu Visi Indonesia 2045, mengarahkan kita untuk menjadi bangsa dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia.

Diaspora KAMMI bersama-sama dengan jutaan diaspora Indonesia lainnya terpanggil untuk ikut berkontribusi terhadap pencapaian visi besar tersebut. Modal pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (best practices) yang didapatkan para mahasiswa, profesional dan pebisnis Indonesia di negara lain akan dibawa pulang untuk kepentingan bangsa. Dalam mencapainya, tentu saja diperlukan kerja keras, disiplin dan kerjasama antara seluruh elemen diaspora Indonesia. Harapannya, visi besar Indonesia 2045 dapat kita wujudkan bersama. Merdeka.

Adhe Nuansa Wibisono
Ketua Majelis Pertimbangan KAMMI Turki, mahasiswa doktoral Studi Keamanan Internasional-Polis Akademisi Turki.

Leave a Reply

Close Menu