fbpx

BUMN tidak berefek pada Keuntungan Negara, Namun Hutangnya Naik Signifikan

BUMN tidak berefek pada Keuntungan Negara, Namun Hutangnya Naik Signifikan

Hasil Disukusi Lesehan Kebangsaan
KP PP KAMMI
“Evaluasi BUMN”

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan perusahaan milik negara atau biasa disebut dengan perusahaan plat merah yang aktifitasnya berada dibawah koordinasi Kementerian BUMN. Ratusan BUMN yang ada belakangan menjadi sorotan, dikarenakan peningkatan hutang perusahaan yang sangat besar dan signifikan. Hutang yang dimiliki keseluruhan BUMN semakin meningkat, yakni tahun 2016 sebesar 4.240 Triliyun rupiah, Tahun 2017 sebesar 4.830 Triliyun rupiah dan tahun 2018 sebesar 5.613 Triliyun rupiah. Kenaikan yang cukup besar pada porsi hutang setiap tahunnya bagi sebuah perusahaan.

Kenaikan hutang tersebut, disebutkan berdampak langsung pada keseluruhan aset BUMN. Total Aset seluruh BUMN yang ada juga mengalami kenaikan yang signifikan, yakni dari 6.524 Triliyun rupiah pada tahun 2016, lalu naik menjadi 7.210 Triliyun rupiah pada tahun 2017 dan terakhir pada pembukuan tahun 2018 menjadi 8.092 Triliyun rupiah. Kenaikan aset ini diklaim sebagai sebuah capaian yang bagus bagi kementerian BUMN.

Namun yang harus dicermati adalah bagaimana efek dari penambahan hutang dan aset tersebut pada kinerja BUMN secara umumnya. Ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk melihat kinerja BUMN secara umum yang tidak hanya melihat pencapaian penambahan aset saja.

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja keseluruhan BUMN adalah dengan melihat Debt Ratio (Debt to Asset Ratio). Semakin tinggi nilai Rasio ini menunjukkan bahwa semakin besar aset yang dibiayai oleh hutang, semakin tinggi resiko perusahaan menyelesaikan hutangnya dan semakin besar beban Bunga yang ditanggung.

Nilai Debt Ratio dari keseluruhan BUMN dari tahun 2016 hingga 2018 terus mengalami peningkatan, yakni dari 0,650 tahun 2016, menjadi 0,670 pada tahun 2017 dan di tahun 2018 menjadi 0,694. Hal ini menandakan bahwa semakin besar aset BUMN yang dibiayai oleh hutang dari tahun ketahunnya. Jika nilai rasio ini terus meningkat, maka resiko BUMN untuk membayar seluruh hutang juga semakin tinggi dan beban bunga hutang yang harus dibayar juga semakin besar. Semakin tinggi Debt ratio, menyebabkan bunga hutang semakin tinggi dan hal ini akan menjadi beban bagi BUMN untuk tumbuh kedepan.

Selanjutnya, indikator yang juga bisa digunakan untuk mengukur kinerja BUMN adalah Debt to Equity Ratio. Ketika nilai rasio ini meningkat artinya sebagian aset perusahaan dibiayai oleh kreditor (pemberi hutang) dan aset tersebut bukan berasal dari ekuitas (modal perusahaan sendiri). Hal ini merupakan trend yang cukup berbahaya bagi sebuah perusahaan. Pemberi pinjaman dan Investor biasanya memilih Debt to Equity Ratio yang rendah karena kepentingan mereka lebih terlindungi jika terjadi penurunan kinerja perusaaan.

Nilai Debt to Equity Ratio dari BUMN terus meningkat setiap tahunnya. Dapat dilihat, mulai dari nilai 1,856 pada tahun 2016, menjadi 2,029 pada tahun 2017 dan terakhir semakin tinggi menjadi 2,264 pada tahun 2018. Hal ini cukup membahayakan bagi BUMN, karena setiap tahunnya penambahan Aset BUMN berasal dari hutang, bukan dari keuntungan ataupun modal usaha BUMN. Penambahan aset yang berasal dari hutang seharusnya tidak bisa disebut sebagai sebuah pencapaian yang bagus dalam mengelola BUMN yang ada dan hal ini perlu dievaluasi.

Indikator kinerja perusahaan yang terakhir adalah Rate of return on total assets (ROA). ROA biasanya digunakan untuk mengukur seberapa menguntungkan perusahaan dalam menggunakan asetnya. Nilai ini bisa menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan mampu mengkapitalisasi asetnya, sehingga aset yang ada bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan Laba bersih bagi perusahaan.

Dalam konteks BUMN, Nilai RoA dari tahun 2016 hingga 2018 tidak ada perubahan signifikan dan malah cenderung menurun. Pada tahun 2016, nilai RoA BUMN sebesar 0,025, lalu berubah sedikit menjadi 0,026 pada tahun 2017 dan menurun kembali pada tahun 2018 menjadi 0.023. Hal ini pertanda bahwa manajemen BUMN saat ini gagal dalam mengelola dan memaksimalkan aset BUMN yang ada untuk menghasilkan keuntungan bagi negara. Padahal aset dan hutang yang begitu besar, seharusnya bisa menghasilkan keuntungan yang besar juga bagi BUMN dan negara.

Satu hal yang sangat disayangkan bahwa pertambahan jumlah hutang yang sangat signifikan tahun 2016-2018 yaitu sebesar 1.373 Triliyun rupiah, yang menyebabkan pertumbuhan aset yang cukup bagus, namun tidak berimplikasi signifikan pada peningkatan keuntungan BUMN. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari nilai ROA keseluruhan BUMN yang menjelaskan bahwa tidak ada perubahan nilai yang signifkan.

Pengelolaan BUMN harus dievaluasi secara menyeluruh, hal ini berkaitan dengan hutang yang semakin bertambah banyak namun tidak menghasilkan keuntungan yang signifikan bagi BUMN dan negara. Hutang yang semakin banyak yang mengakibatkan Debt Ratio semakin tinggi, sehingga BUMN harus menanggung beban bunga hutang yang semakin besar juga. Selain itu resiko BUMN untuk membayar hutang juga semakin tinggi, yang salah-salah resikonya bisa menyebabkan BUMN gagal dalam membayar hutang yang ada. Disamping itu, laba bersih yang dihasilkan oleh BUMN tidak bertambah signifikan, hal ini dapat dilihat dari RoA yang cednerung stagnan dan menurun. Sangat disayangkan sekali, BUMN yang mengambil resiko tinggi, namun tidak menghasilkan keuntungan yang tinggi pula.

Dapat disimpulkan bahwa perlu evaluasi yang menyeluruh dari keseluruhan BUMN yang ada dan juga Kementerian BUMN yang menjadi penanggung jawab utama pengelolaan BUMN tersebut. Hal ini dikarenakan, kebijakan untuk mengambil begitu banyak hutang tidak berdampak signifikan pada keuntungan negara. Padahal keseluruhan BUMN tersebut mengambil cukup besar resiko bisnis untuk hutang tersebut. Namun hutang yang ada tidak maksimal dalam mengahasilkan keuntungan bagi negara.

Leave a Reply

Close Menu