fbpx

MERDEKA !

MERDEKA !

Dalam sebuah diskusi malam yang hangat. Asap rokok memendar tertiup udara pendingin. Segelas air mineral didepanku kuteguk untuk mengurangi rasa tak nyamanku.

Sosialisme relijius. Kata ini yang menjadi topik perbincangan kami. Sang pembicara membangun argumennya dalam rentang ribuan tahun sejarah umat manusia. Dalam kilas sinkronik diakronik khas cara berpikirnya, sang pembicara berkesimpulan bahwa sosialisme relijiuslah jalan yang perlu ditawarkan bagi bangsa ini.

Sosialisme adalah satu cabang jalan yang membimbing para founding parent bangsa ini. Syahrir cum suis adalah jelas sosialis. Namun pak Cokro, Tan, Soekarno dan Hatta juga seorang sosialis. Bedanya Syahrir adalah sang burung kafka, Hatta cermat dan berhati-hati hidupnya. Begitu serius Hatta dalam belajar sosialisme sehingga dia bolak-balik ke skandinavia. Kelak gagasan koperasi lahir dari muhibahnya ini.

Relijius adalah akar bangsa ini. Relijius yang dibayangkan Soekarno di Ende menjadi alternatif utama Indonesia sampai detik ini. Para pemeluk agama disatukan dalam satu pakta transenden, pancasila. Maka sang pembicara, seorang doktor tajam yang pikirannya , berkesimpulan bahwa akar-akar nation state sebenarnya bukanlah melulu dari tradisi barat. Mata air awalnya bukan di westphalian order yang memungkasi perang tigapuluh tahun, namun justru dari mitsaq madinah. Perbedaan identitas -suku, agama, keluarga- disatukan dalam satu piagam yang ditransendensikan, piagam madinah.

Nation state selalu menjadi topik yang hangat dari waktu ke waktu. Namanya diteriakkan dalam histeria stadion yang penuh sesak, upacara-upacara bendera yang serba disiplin, panggung tirakatan malam tujuhbelasan, tapi hilang dalam transaksi di warung, pasar tradisional dan tentu saja di Mall.

Dunia terus berubah. Orang bilang sekarang zaman teknologi. Teknologi yang mampu melipat ruang dan waktu. Cukup video call untuk bertemu seseorang nun jauh disana. Perjalanan tiga bulan ke tanah suci haramain saat ini bisa ditempuh hanya dalam waktu sembilan jam saja. Hubungan supplychain mulai sering dipraktekkan antar kota bukan lagi melulu antar negara. Konsep connectography dilahirkan. Batas-batas ruang dan waktu terus dipangkas.

Orang mulai bertanya, apa fungsi negara dan aparatusnya jika kondisi sudah berubah. Jauh-jauh hari, titik paling ekstrem dari sosialisme bernama komunisme menggelontorkan pertanyaan tersebut dan menyebutkan bahwa masyarakat komune tanpa hak kepemilikan individu adalah jawabannya. Bagi kaum ekstrim kapitalis justru sebaliknya, kepemilikan individu adalah segalanya. Keduanya utopis. Islam tidak membenarkan keduanya, ada hak milik individu, ada hak milik komunal yang harus dijalankan.

Selama kedua hak tersebut diakui, maka negara akan tetap lestari. Tiap-tiap entitas dalam negara : individu, ormas, partai politik, suku, kelompok agama, bahkan perusahaan dan birokrasi boleh bertarung memperebutkan pengaruh. Namun tidak ada satupun yang akan memperoleh semua keinginannya. Dalam praktek bernegara winner takes all tidak akan pernah terjadi. Selalu ada jalan kompromi di depan, tengah atau ujung.

Saya sendiri berkeyakinan negara-bangsa masih akan bertahan. Tentu yang paling rentan adalah bangsa. Karena bangsa adalah produk imajinasi kolektif masyarakat di dalamnya. Om Ben menyebutnya sebagai imagined communities. Jika imajinasi kolektif tersebut terkikis oleh ketidakadilan, agresi militer, konflik horisontal dan vertikal, penindasan atau alasan lainnya, maka entitas bangsa juga akan melemah.

Demikian juga negara. Jika aparatusnya dipangkas satu per satu maka melemahlah entitasnya. Upacara bendera, lagu-lagu nasional, taman makam pahlawan adalah mantra-mantra yang mengokohkan negara. Jangan dilupakan juga birokrasi, selalu ada keajaiban birokrasi dalam mempertahankan negara. Maka jangan asal dipangkas, resikonya besar, bukan sekedar efisiensi.

Maka sejauh mana Indonesia mampu bertahan sesungguhnya berpulang pada manusia-manusia di dalamnya. Orang-orang di dalamnya boleh bertarung demikian keras atas nama gagasan, kepentingan dan paham yang diyakini. Namun dalam bernegara harus ada konsesus bersama, saluran-saluran komunikasi antar kelompok dan tentunya kelapangan dada dari setiap pelakunya. Seperti pertarungan keras berbabak-babak antara Nasir dan Kasimo yang diselingi dengan berboncengan bareng. Saya sebenarnya curiga jangan-jangan mereka juga ngeteh bareng. Tidak ada larangan bagi yang suka kopi untuk mencurigai mereka juga suka ngopi bareng. Dirgahayu Republik Indonesia ke 74.

oleh Kartika Nurakhman – MPP PP KAMMI, 17 Agustus 2019,

Leave a Reply

Close Menu