fbpx

Waspadai Neo Imperialisme dengan pindahnya Ibu kota NKRI

Waspadai Neo Imperialisme dengan pindahnya Ibu kota NKRI

Saya beranggapan bahwa pemerintah bertindak gegabah dengan memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur di daerah Penajam dan Kutai Kartanegara.

Alasan bahwa Jawa terlalu padat, kontribusi ekonomi terhadap PDB, krisis air bersih, dan konversi lahan di jawa sebagaimana kajian Bappenas bukanlah alasan kuat untuk pindah ibu kota.
Pertanyaan berikutnya, mengapa letaknya harus di Kalimantan timur?
kalau kata pak Jokowi karena alasan keamanan, letak strategis, dan kedekatan dengan 2 kota berkembang yaitu Balikpapan dan Samarinda.

Sebelum menjadi Indonesia, negara kita juga pernah mempunyai ibu kota di Ambon, namun karena alasan ekonomi dan geopolitik, Belanda memindahkannya ke Batavia. 1946 Saat Agresi Militer, Ibu kota juga mengalami kondisi darurat dan dipindahkan ke Yogyakarta dengan persetujuan Hamengkubuwono, 1948 Ketika terjadi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Ibu kota juga dipindahkan ke Bukittinggi, dan kepemimpinan dialihkan sementara dari Soekarno ke Syafruddin Prawiranegara. Jadi pemindahan ibu kota bukanlah kejutan bagi perjalanan NKRI.

*Mengapa ke Kalimantan?*

Jokowi adalah orang ketiga, setelah Semaoun dan Presiden Soekarno, yang menginginkan ibu kota pindah ke Kalimantan. Semaoen mengatakan, titik paling strategis untuk menjadi ibu kota Indonesia adalah Palangkaraya. Atas nasehat Semaoen sebagai teman karib Nasakom, Soekarno memerintahkan membangun Palangkaraya, membuat jalan raya yang lurus-lurus, namun pembangunan ini terhenti saat kerusuhan 1965 dan ibu kota tetap di Jakarta sampai sekarang.

Menurut kajian Bappenas, letak ibu kota katanya sudah sesuai dengan syarat pertahanan negara, karena Kalimantan letaknya di titik sentral geopolitik RI. Namun, apabila diukur melalui teori pertahanan negara/ Weerbaarheit ( National Resilience Theory) Kaltim memang terletak di titik central, namun posisinya jauh menjorok ke utara, dan posisi ini terbuka untuk mendapatkan serangan dari negara lain dalam siklus 24 jam. Kemungkinan serangan arteleri pertahanan udara yang menggunakan rudal bisa dari Sabah, Malaysia Timur, Sarawak, dan serangan laut dari Filipina selatan, karena letaknya yang tidak jauh dari laut Sulu dan laut Sulawesi. Dalam waktu 30 menit, Kaltim akan hancur.

Berbeda dengan perpindahan ibu kota di negara lain. Misal, Rusia pindah dari St.Petersburg ke Moskow (1918) alasannya adalah keamanan, Moskow punya kemungkinan kecil untuk diserang, Karena posisinya sentral. Turki, yang semula ibu kota di Istambul kemudian pindah ke Ankara (1923), mempertimbangkan cara kerja National Resilience Theory. Istambul yang tadinya berada di wilayah daratan Eropa kontinental, berbatasan langsung dengan Yunani dan Bulgaria, dipindah ke Ankara, daratan Kontinental Asia, yang lebih mendekati sentral geopolitik Turki.

Sampai disini, saya pribadi menilai, Kalimantan timur tidak representatif dijadikan sebagai ibu kota dalam perspektif pertahanan nasional.
Berbeda dengan Jakarta, kota ini memiliki syarat geopolitik nasional, Karena letaknya di titik strategis dan memiliki wilayah penyanggah. sehingga jika terjadi serangan dari negara lain, dalam siklus 24 jam negara bisa diproteksi. Jakarta juga jauh dari Singapura, Malaysia, PNG, Timor Leste dan dekat dengan laut. Itulah mengapa sejak dulu kala Sunda Kelapa sudah menjadi kota kosmopolit dunia.

Dengan berpindah ibu kota, implikasi negatif yang paling nyata adalah, terbukanya pintu investasi bagi China. Yang kedua, Indonesia telah masuk dalam operasi penggalangan kebijakan luar negeri China. Perlu kita ingat, VOC dalam 100 tahun pertama bukanlah menginvasi Hindia belanda dengan senjata, namun dengan memanjakan kerajaan-kerajaan nusantara dengan harta benda, sehingga seluruh kebijakan ekonomi dan khususnya perdagangan raja-raja nusantara tunduk pada aturan VOC.

Di Indonesia, China menguasai 80% lebih ekonomi nasional, 78% tanah pertanian, dan 74% tanah produktif Jakarta juga dimiliki China. (Ms Ka’ban)
Sebentar lagi China juga akan menguasai politik nasional. Dengan survey nasional oleh BPS tahun 2014 jumlahnya meningkat menjadi 12 juta lebih. di sisi lain, setelah Xi Jinping menetapkan UU untuk China overseas ditambah dengan berlakunya asas Ius Sanguinis, China dibelahan dunia manapun bisa pulang ke Tiongkok jika ketahuan bikin ulah di negara lain.

akhirnya sampailah kita pada OBOR planning (One Belt One Road One China) sebagai neocortex warfare, kita akan membangun jalan tol untuk Neo Imperialisme. Hal ini mengingatkan saya saat Soekarno membuat jalur Jakarta-Peking akhirnya terjadi kerusuhan 65. Jokowi membuat Jalur Obor, lalu apa yang akan terjadi?

Di samping membicarakan pemindahan kota, Presiden Jokowi juga hampir menyelesaikan jalan mulus menuju invasi bisnis China. Kepmen (Keputusan Menteri ketenagakerjaan no 228 tahun 2019) isinya kurang lebih membuka semua jenis pekerjaan untuk orang Asing. Jika sebelumnya di Era SBY kepmen naker 247 tahun 2011 hanya ada 66 posisi kategori bidang konstruksi, maka mulai sekarang ada 181 jabatan yang terbuka untuk asing. Sebuah kondisi yang niscaya untuk melengkapi pembuatan ibu kota baru kita.

Itulah mengapa saya secara pribadi tidak mengunduh dan berbelanja di marketplace dan start-up yang konon memakai jalur OBOR. walaupun voucher dan gratis ongkirnya sungguh menggetarkan hati.

Sebagai penutup, marilah kita memelihara radikalisme yang mengakar, mencintai NKRI dengan rasio dan hati, agar sebisa mungkin memperlambat penjajahan era baru. Malaysia sudah mulai berbenah, menakar potensi hegemoni ekonomi China di negeri melayu. Kapan kita bersegera? tanda-tanda Indonesia bubar semakin nyata.

Oleh Anis Maryuni Ardi, S.IP., M.Si
Sekbid SDMS PP KAMMI
Alumni UNHAN

Leave a Reply

Close Menu