fbpx

Demi Keamanan Negara, Kapolri Harus Ungkap Neo Petrus

Demi Keamanan Negara, Kapolri Harus Ungkap Neo Petrus

Jakarta. Pimpinan Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) Aza El Munadiyan, menyatakan bahwa Kapolri Kapolri harus mengungkap Neo Penembak Misterius (Petrus) yang kembali terjadi di Indonesia. Aza menjelaskan telah terjadi 2 kali penembakan misterius dalam waktu yang tidak berselang lama dalam momentum yang sama yaitu aksi demontrasi berujung rusuh.

” Dua buah kasus penembakan misterius harus diungkap ke publik bagaimana penanganan Polri dalam penyelesaianya yaitu pertama kasus penembahkan terhadap 5 orang dimana empat diantaranya tewas dan satu orang berhasil selamat dalam kerusuhan di Bawaslu RI 22 Mei 2019. Kedua, penembakan misterius terhadap Randi (21), mahasiswa semester VII Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari peserta aksi demo di DPRD Kendari serta Putri (23) bukan peserta aksi yang sedang tidur di rumahnya. Jarak rumah Putri lebih dari 2 kilometer dari lokasi aksi di Kendari,” tutur Aza melalui pesan yang dikirim secara tertulis ke redaksi pada Selasa, 1 Oktober 2019.

” Kejadian penembakan misterius ini menimbulkan keresahan dan menurunnya rasa aman masyarakat. Tentu ini menjadi catatan buruk bagi institusi Polri. Apalagi jika kasus ini tidak diungkap secara jelas kepada publik. Publik akan menilai adanya keterlibatan aparat kepolisian yang secaa kebetulan sedang menjaga keamanan di setiap aksi demontrasi. Hal ini berdasarkan temuan di lapangan kejadian penembakan di Jakarta maupun di Kendari, dua proyektil peluru yang berasal dari senjata berkaliber 5,56 mm dan 9 mm merupakan peluru standar militer yang dipergunakan oleh Polri maupun TNI. Walaupun tidak menuntup kemungkinan peluru tersebut dipergunakan oleh warga sipil yang memperoleh secara ilegal di pasar gelap, ” jelas Aza panjang lebar.

” Sejarah kelam Indonesia pernah mencatat penembak misterius (Petrus) yang dilakukan oleh negara melalui tangan polisi dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Tentu kita tidak ingin kembali ke zaman itu ketika dengan mudahnya, tanpa proses hukum aparat penegak hukum menembak rakyat dengan senjata yang dibeli dari uang rakyat,” Aza mengingatkan.

” Jangan sampai cara-cara Orde Baru kembali hadir di masa pemerintahan Presiden Jokowi dalam bentuk baru,” tutup Aza.

Perlu diketahui, Penembakan Misterius alias Petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta pada tahun 1982. Penyelidikan Komnas HAM menemukan bahwa ada indikasi kuat pemerintah Orde Baru sengaja merestui sebuah program pembunuhan massal untuk mengatasi gangguan keamanan kala itu.
Korban Petrus tercatat mencapai ratusan orang, tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak.

Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan

Leave a Reply

Close Menu