fbpx

Memerdekakan Guru

Memerdekakan Guru

Pesan kemerdekaan bagi Guru bisa kita baca dari Sambutan Mendikbud Nadiem Makarim yang viral beberapa hari ini. Nadiem yang generasi Milenial ini ingin Guru terbebas dan merdeka dari sistem dan beragam aturan mengajar yang kental aroma kolonial. Guru yang tidak bebas mendidik dan mengajarkan Murid karena harus mengerjakan beragam tugas. Guru tak merdeka mengajarkan ilmu yang murid butuhkan karena tersandera jumlah materi belajar yang menggunung. Guru tak bebas membangun nalar dan logika Siswa dengan pemahaman yang runut karena tuntutan jumlah materi belajar dan kesiapan siswa menghadapi ujian nasional.

Mengapa Guru harus merdeka dalam mengajar? Karena siswa butuh kemerdekaan dalam belajar. Bagaimana mungkin siswa merdeka dalam belajar bila Guru seperti menjadi sipir yang menyandera murid dengan beban materi, tuntutan ujian, jadwal mengajar dan hal-hal yang sesungguhnya tak begitu dibutuhkan siswa untuk hidup di masa depan. Siswa saat ini dibebankan tugas menjadi ‘hard disk’ guna menampung begitu banyak pengetahuan, mata pelajaran dan materi belajar. Bahkan sebagian besar orang tua kini kebingungan dengan beratnya materi pelajaran SD yang bahkan orang tuanya-pun kesulitan menjawabnya. Lengkap sudah, kemerdekaan bermain pun hilang di masa kecil mereka.

Mungkin pembuat kurikulum dan regulasi lupa, bahwa di era digial ini pengetahuan begitu cepat berkembang. Ada ribuan pengetahuan tak lagi relevan karena ada banyak inovasi yang melahirkan pengetahuan baru. Jadi apa-apa yang dijejalkan di kepala siswa , sebagian besar mungkin akan menjadi sampah karena tak dibutuhkan lagi di masa depan. Apakah tidak ada cara belajar yang lebih baik daripada sekedar menjejalkan pengetahuan ke kepala Siswa?

Mungkin ini yang ingin di perbaiki sang menteri milenial. Pengetahuan bisa saja berubah dan banyak pengetahuan baru lahir. Bila kita hanya mengikuti aliran pengetahuan, maka sudah pasti kita akan tertinggal dengan bangsa-bangsa yang lebih dulu berinovasi & memproduksi pengetahuan. Maka berhentilah menjadi ‘penikmat’ pengetahuan. Jadilah manusia kreatif dan inovatif yang mampu memanfaatkan beragam pengetahuan (bahkan pengertahuan baru) untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat menjawab problem/kebutuhan masyarakat & negara.

Menjadi inovator tidak butuh pengetahuan yang menggunung. Inovator adalah orang yang bernyali, berempati, memiliki daya belajar, daya berfikir dan daya inovasi tinggi. Banyak pengetahuan yang bisa kita riset di internet, buku, expert bahkan di masyarakat. Tapi pengetahuan itu tidak akan menjadi apapun bila manusia-nya tidak bernyali, tidak punya kepedulian, tidak punya daya belajar, tidak punya daya inovasi. Inilah kompetensi yang dibutuhakan generasi milenial di era digital. Kompetensi ini tidak akan terbangun bila Siswa tidak merdeka dalam belajar dan Guru tak merdeka dalam mengajar.

Kita tidak perlu sibuk mengejar keunggulan bangsa lain, terutama dalam bidang pendidikan. Cukuplah kita menjadi bangsa yang mampu mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dan negara kita. Cukuplah orang Indonesia fokus mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan yang dicanangkan pendiri bangsa. Peran pendidikan harus bermuara disana karena inilah tujuan kebangsaan kita. Pendidikan harus bisa mencetak manusia-manusia yang menjadi problem solver dengan kebaikan dan perbaikan yang bisa dilakukan. Yang bisa berinovasi dengan memanfaatkan pengetahuan dan teknologi yang bertebaran di dunia ini untuk kepentingan masyarakat & negara.

Guru-lah tulang punggung proses mecetak manusia-manusia Indonesia yang merdeka berinovasi dan berkreasi. Cukuplah para siswa bisa menjawab aneka kebutuhan yang ada di lingkungan lokal mereka. Mempelajari kearifan lokal dan bisa berinovasi mengembangkannya. Karena lokalitas adalah awal pangkal puzle-puzle dunia global. Saat siswa kita mampu berinovasi menjadi solusi problematika dan mengembangkan potensi lokal, inilah awal dari kesuksesan bangsa kita mewujudkan Cita-cita Kemerdekaan serta berkontribusi untuk peradaban dunia. Syaratnya adalah Guru yang merdeka dalam mengajar & Siswa yang merdeka dalam belajar mereka.

Selamat Hari Guru 2019, semoga Guru Indonesia segera Merdeka.

Arif Susanto
MPP KAMMI
Inisiator ImpactNesia

Leave a Reply

Close Menu