fbpx

Sequel Diskusi Peran Perempuan dalam menangani krisis sosial ekologis

Sequel Diskusi Peran Perempuan dalam menangani krisis sosial ekologis

Oleh: Anis Maryuni Ardi,
Zainul Muttakin, Hana Setiani

Secara proporsional, LSO KAMMI Untuk Kedaulatan Alam mempunyai manifestasi untuk melawan antroposentrisme, sebagaimana sejak tahun pertengahan 1.200 masehi, sebelum Inquisisi gereja menghukum galileo galilei atas tuduhan melawan otoritas dan kaidah Kristen tentang antroposentris, Ibnu Khaldun sudah membahas bahwa bumi itu bulat, tatasurya itu terdiri dari mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam mukadimmah juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah, pemimpin, pemelihara, yang konsekuensi logisnya adalah menjaga alam tetap lestari.

Manusia tidak pada otoritas mengelola alam. Walaupun dalam hubungan masyarakat yang modern, terdapat pertengahan antara masyarakat dan negara sehingga menyebabkan social disobeydience (ketidakteraturan sosial). Hal ini diperumit dengan relasi kuasa antara elite dan massa.

Bagaimana manusia menjaga alam? Masyarakat Papua sebelum makan beras mereka makan dari hasil hutan, mencari pohon sagu, tanpa mengatur kapan menanam dan memotong sagu. Masyarakat Jawa, menanam pohon jati, tanpa berniat memotongnya suatu hari nanti.

Dunia berganti, pasca revolusi agrikultur, manusia mendomestifikasi tumbuhan, mengandangi hewan yang disebut ternak, membunuh predator, sehingga populasi famili kucing di dunia berkurang 90% dan yang tersisa sekarang hanya bisa kita lihat di pinggir jalan dan kebun binatang.

Hemat kami, alam bukanlah sebuah komoditi, perempuan dan laki-laki sama-sama bertugas menjaga kelestarian alam, melawan kapitalisme dan menanggulanginya pengaruh-pengaruhnya untuk mendistribusikan keadilan ekologis bagi generasi selanjutnya. Dalam konteks ini, peran institusi keluarga, masyarakat adat, korporat dan birokrat harus saling membantu atau saling melengkapi dalam relasi yang kritis dan membangun.

Narasi tentang kelestarian alam, pada akhir abad 20 banyak dijadikan arus politik alternatif, Vandana Shiva dan Gayatri Spikvak mempromosikan sebuah gerakan Ekofeminisme di India, di dunia ketiga, sebagai wujud perlawanan terhadap kapitalisme dan korporatisme.

Namun, sayang sekali, gerakan ini menjadi obsolet, karena teori teori pembangunan modern praktis menawarkan kompensasi. Hal ini menjadi refleksi berpikir bagi kita, Barat yang tanpa teks ilahiah, tanpa bimbingan wahyu mampu mengembangkan pemikiran sejauh itu sampe tataran praktis dan mempunyai tolok ukur evaluasi.

Sebagai seorang muslim, mata kami tidaklah tertutup dengan kamuflase itu, bimbingan Alquran sebagai teks ilahiyah ini harus dihadirkan dalam seminal konsep sampai pada tataran praktis. Akar materialisme Barat dan ilahiyah ini jangan sampai hanya pada taraf dipertentangkan. Melucuti kapitalisme adalah persoalan pelik, jika tidak mempelajarinya sama sekali. Sebagaimana Naquib al-Attas yang berhasil menguasi penuh perbendaharaan orientalisme, sampai bisa menelanjangi kelemahan filsafat barat sampai ke Immanuel Kant.

Pada titik ini, kami mencoba menggali, kelemahan ide ekologi yang diusung Ekofeminisme yang diakhir reputasinya berdamai dengan stigma perempuan sebagai komoditi dan korban korporasi.

Alam dalam pandangan hidup muslim, adalah makhluk, karena sama-sama diciptakan, makhluk yang dalam bahasa sains disebut organisme ini terdiri dari makhluk hidup dan tak hidup, biotik dan abiotik. Keduanya terakumulasi dalam term ekologi, yang selanjutnya kami promosikan untuk dijadikan arus perjuangan, lini advokasi dan gerakan perempuan. Mengapa? Pertama, peradaban yang tinggi mempunyai syarat utama, yaitu kemurnian akidah, kemanusiaan yang tinggi akal budinya dan lingkungan yang bersih.

Bahkan dalam kondisi perang sekalipun, kejahatan ekologis tidak bisa ditolerir, sebagaimana kejahatan kemanusiaan. Rasulullah memerintahkan untuk tidak menebang pohon, merusak rumah, dan membunuh anak anak dan perempuan. Ketinggian adab untuk lingkungan inilah yang menjadi pijakan bahwa manusia memang harus menjaga alam tetap lestari.

Secara sosio ekologis, memang budaya masyarakat Indonesia tidak pernah terlepas dari pemuliaan perempuan, istilah ibu kota, ibu pertiwi, keraton, kaibon, dan bahkan nama nama senjata tradisional banyak menggunakan istilah yang terasosiasi dengan perempuan. Namun spirit ini seakan hilang dari rentetan kebudayaan yang dialami di Indonesia berabad-abad silam. Terlebih jaman pra feodalisme, dimana rakyat bebas menyampaikan aspirasi dan memilih lingkungan hidupnya.

Terakhir, kami menguatkan kepercayaan bahwa praktek hidup islam adalah praktek hidup yang membuka ruang – ruang transformasi, alias kompatibel dengan jaman. Sehingga Ijtihad menjaga alam ini harus memakai kaidah fiqih transformatif. Sehingga segala praktek kehidupan sosial dalam berbagai kondisi memungkinkan penyesuaian yang ilmiah dan tidak ngawur.

Mari menggali khazanah kebudayaan kita, jangan sampai penteorian Barat membuat hati kita tertutup dari hikmah yang terserak. Akhirul khalam. Akan kami sampaikan upaya teknis untuk melawan kapitalisme, menjaga kelestarian alam dan mendistribusikan keadilan.

Salam lestari.

Leave a Reply

Close Menu